PERANAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH

Abstrak
Motivasi belajar siswa ditentukan oleh beberapa faktor yaitu (1) faktor yang berasal dari lluar pribadi siswa atau disebut juga sebagai faktor eksternal, dan (2) faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang disebut sebagai faktor internal. Faktor eksternal tersebut adalah situasi kelas yang tenang, lingkungan sekolah yang sejuk, karakter guru, dan keinginan mendapat hadiah. Sedangkan faktor internal adalah kesadaran pribadi untuk mengetahui pelajaran geografi. Faktor eksternal dan faktor internal tersebut, rnenjadi rnotivasi bagi siswa dalam memacu diri mencapai prestasi atau hasil belajar yang maksimal.

A. Pendahuluan
Tingkat pendidikan suatu bangsa dipengaruhi oleh sistem dan manejemen pendidikan di negara tersebut. Oleh karena itu, dunia pendidikan harus dikelolah dengan sebaik-baiknya agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Para pendidik harus mampu membentuk peserta didik manjadi manusia yang kreatif, berdisiplin, bermotivasi, mandiri dan tegar menghadapi tantangan yang kompetitif.
Sumber daya manusia yang berkualitas tidaklah mungkin tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alami. Tetapi jelas harus melalui suatu proses pengembangan yang diupayakan secara sistematis, konsisten dan profesional. Satu-¬satunya wadah kegiatan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas adalah pendidikan, baik pendidikan jalur sekolah maupun pendidikan jalur luar sekolah.
B. Pengertian Belajar
Menurut Wojowasito (1972: 30) dalam kamus bahasa Indonesia bahwa, "belajar" adalah menuntut ilmu (kepandaian), "belajar" merupakan kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman tentang sesuatu hal, penguasaan kecakapan dalam suatu bidang.
Jadi belajar merupakan kebutuhan dasar individu yang dilakukan sepanjang hidup manusia. Pada hakekatnya melalui kegiatan belajar akan terjadi perubahan diri orang yang belajar. Dan menurut Lipu (1990: 113) menyatakan bahwa: "Belajar ditandai dengan perubahan prilaku, baik dalam bentuk prilaku yang tampak maupun yang tidak tampak, yang mencakup kognitif, efektif, dan psikomotor". Selanjutnya ada yang mendefenisikan bahwa: "belajar adalah berubah”. Dalam hal ini yang dimaksud dengan belajar adalah usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar, dan perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu penegetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri, atau yang jelasnya menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang.
Belajar bukanlah menghafal dan bukan pula mengingat, akan tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Oleh sebab itu, belajar adalah proses yang aktif dan dapat mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu.
Kemudian ada yang mendefenisikan tentang pengertian belajar secara moderen berdasarkan para ahli psikologi bahwa belajar adalah ditunjukkannya oleh adanya perubahan tingkah laku, artinya bahwa belajar tidak dirunjukkan oleh banyaknya usaha yang dilakukan oleh individu, bukan oleh banyaknya waktu yang digunakannya untuk menguasai sesuatu yang dipelajarinya, demikian juga bukan karena seriusnya penampakan wajah siswa atau seringnya anggukan kepalanya akan tetapi dilihat dari apakah ada perubahan tingka laku siswa. (Latunreng :25)
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa seorang siswa dikatakan belajar jika di dalam dirinya terjadi suatu perubahan tingkah laku. Dan perubahan inilah yang menjadi tujuan belajar. Perubahan tingkah laku dalam artian siswa mampu mengetahui, memahami, dan menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru geografinya.
B. Fungsi Motivasi dalam Belajar
Dalam belajar motivasi sangatlah diperiukan, karena hasil belajar akan optimal ketika motivasi itu ada. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan berhasil pula pelajaran yang diberikan itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan frekuensi usaha belajar bagi siswa.
Sehubungan dengan yang dimaksud di atas ada tiga fungsi yang sangat penting dalam motivasi :
1. Mendorong siswa untuk berbuat, yakni sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang•dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang dikerjakan sesuai dengan harapan yang diinginkan.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna pencapaian tujuan tersebut. Selanjutnya seorang siswa yang akan menghadapi ujian/ulangan dengan harapan dapat lulus, tentulah akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan habiskan waktunya untuk bermain dengan temannya.
C. Pengertian Motivasi Belajar
Arti kata motivasi adalah adanya dorongan daya batin atau batasan. Kata motivasi adalah terjemahan dari kata motivation (inggris) yaitu suatu kata yang berkaitan erat dengan kata motive (inggris) atau motif (indonesia) yang berartikan sesuatu yang mengatakan untuk bertindak atau rangsangan atau dorongan atau ide penggerak untuk bertindak atau berbuat.
Definisi lain tentang motivasi adalah motivasi berasal dari kata "motif', yang diartikan bahwa sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat pula dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi interen (kesiapsiagaan). Berawal dari kata "motif” itu, maka motivasi dapat diartikan daya penggerak yang telah menjadi aktif untuk mencapai tujuan.
Dengan kegiatan belajar-mengajar, apabila ada seorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu bermacam-macam, mungkin ia sakit, atau ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tersebut tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan dalam hubungannya dengan belajar. Keadaan ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab-musabahnya dan kemudian mendorong seorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain siswa itu perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya, atau singkatnya perlu diberikan motivasi.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan berkeinginan melakukan sesuatu, jika ia tidak suka ataupun suka, maka pengajar dituntut untuk meniadakan ketidaksukaannya itu. Jadi motivasi itu dapat ditimbulkan oleh faktor luar, akan tetapi motivasi itu adalah tumbuh didalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memebrikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan
dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan "keseluruhan", karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang peranannya khas yaitu dalam hal penumbuhan gairah belajar, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Persoalan motivasi itu, dapat juga dikaitkan dengan persoalan minat. Minat diartikan sebagi suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu apa yang dilihat atau yang seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat mempunyai korelasi dengan kepentingannya sendiri. Hal in] menunjukkan minat adalah kecenderungan jiwa seseorang.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang dari luar, tetapi motivasi itu tumbuh dari dalam diri seseorang. Dalam kaitannya dengan belajar, maka motivasi dapat dikaitkan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar.
Menyadari pentingnya motivasi dalam proses belajar mengajar, maka ada beberapa pendekatan untuk memotivasi siswa agar dapat lebih bergairah dalam belajar. Seperti dikemukakan oleh Nasution (2000: 83) yaitu:
a. Usahakan agar tujuan pelajaran jelas dan menarik. Motif mempunyai tujuan, makin jelas tujuan makin kuat motivasi.
b. Guru sendiri harus antusias mengenai pelajaran yang diberikan
c. Ciptakan suasana yang menyenangkan. Senyum yang menggembirakan suasana.
d. Usahakan agar anak-anak turut serta dalam pelajaran.
e. Hubungan pelajaran dengan kebutuhan anak.
f. Pujian dan hadiah lebih berhasil dari hukuman dan celaan.
g. Sebaiknya biarlah hasil baik dalam pekerjaan mempakan hadiah bagi anak.
h. Pekerjaan dan tugas harus sesuai dengan kemantapan dan kesanggupan anak.
i. Hargailah pekerjaan murid/siswa.
j. Berilah kritik dengan senyuman. Janganlah anak mendapat kesan, bahwa guru marah padanya tetapi hanya kecewa dengan hasil pekerjaannya
Dari uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa motivasi sebagai proses pembangkitan gerak baik dari dalam maupun dari luar diri siswa untuk belajar geografi, Dan salah satu contoh mengenai adanya motivasi dari dalam, adalah apabila siswa tersebut berkeinginan untuk mengetanui pelajaran geografi itu sendiri (ilmu geografi) dengan keinginan sendiri tanpa ada paksaan/rangsangan dari luar. Adapun, apabila seseorang siswa belajar geografi dengan maksud memeperoleh nilai yang tinggi dan mendapat hadiah, maka siswa itu didorong oleh motivasi eksternal dan disamping itu faktor eksternal lainnya adalah (1) Situasi kelas yang tenang (2) lingkungan sekolah yang sejuk, dan (3) Bagaimana karakter guru dalam mengajar. Dalam kaitannya dengan belajar geografi, maka motivasi internal lebih efektif dalam mendorong/merangsang siswa untuk belajar geografi dari pada motivasi eksternal. Namun, bagimanapun juga kedua-duanya dibutuhkan agar siswa selalu termotivasi untuk belajar geografi.
Motivasi yang dijadikan sebagai dasar penelitian adalah (1) Situasi kelas, (2) Lingkungan sekolah yang sejuk, (3) Karakter guru, (4) Ingin mendapat hadiah, (5) Kesadaran pribadi ingin mengetahui pelajaran geografi. :
1. Situasi Kelas
Motivasi tentang situasi kelas sangat diperlukan sekali dalam meningkatkan motivasi pada siswa karena apabila dalam proses belajar mengajar pada suatu kelas, dan pada kelas tersebut terjadi keributan maka kemungkinan besar proses belajar mengajar terhenti dan bisajadi siswa tidak menagkap materi yang sedang berIangsung.
2. Lingkungan Sekolah yang Sejuk
Lingkungan sekolah yang sejuk merupakan salah satu faktor timbulnya motivasi pada diri siswa, contoh kecil, misalnya mata pelajaran sebelum jam sepuluh sampai jam sebelas dengan sesudah jam sebelas motivasi siswa dalam belajar sangat berbeda sekali.
Biasanya siswa lebih semangat belajar ketika jam pelajaran pertama sampai dengan jam istirahat, karena keadaan atau lingkungan disekitar lokasi sekolah masih sangat sejuk dan aktifitas-aktifitas belum lancar disekitar sekolah misalnya kendaraan yang beroda dua ataupun selebihnya misalnya mobil, contoh yang lain yang paling nampak perbedaannya adalah ketika pada kelas itu menggunakan pemdinginan (AC) dengan kelas yang tidak menggunakan alat pendin (AC).
3. Karakter Guru
Sebenarnya karakter guru itu sangat menunjang sekali dalam peningkatan motivasi siswa karena apabila seorang pengajar tidak bisa atau tudak mampu menguasai situasi siswa ataupun kelas ditambah dengan materi yang tidak dikuasai maka motivasi untuk pelajaran yang sedang berlangsung jauh dari harapan tidak maksimal.
4. lngin Mendapat Hadiah
Hadiah dapat juga dikatan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian, karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatui pekerjaan tersebut. contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
5. Kesadaran Pribadi lngin Mengetahui Pelajaran Geografi
Kesadaran pribadi untuk mengetahui pelajaran geografi, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. Kesadaran pribadi untuk mengetahui pelajaran geografi pada diri anak atau siswa didik itu, memang ada motivasi untuk belajar, msehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
D. Kurikulum
1. Pengertian kurikulum
Kurikulum berasal dan bahasa Yunani yakni dari kata cuiri artinya pelari, kata covere artinya tempat berpacu. Jadi curiculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seseorang pelari. Pada saat itu kurikulum diartikan segala sesuatu mata pelajaran yang hams ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijasah. Rumusan Kurikulum tersebut mengandung makna bahwa isi kurikulum tidak lain adalah jumlah mata pelajaran yang hams dikuasai siswa agar siswa memperoleh ijasah. Itulah sebabnya kurikulum sering dipandang sebagai rencana pelajaran untuk siswa.
Dari rumusan diatas maka Sudjana ( 1992:3) berpendapat bahwa kurikulum adalah progaram belajar atau dokumen yang berisikan hasil belajar yang diniati (diharapkan dari hati siswa) dibawah tanggungjawab sekolah, untuk mencapai sekolah.
Pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 1993 tentang sistem pendidikan nasional (sisdiknas) pada bab 10 tentang kurikukum pasal 36 dinyatakan bahwa:
(1). Pembangunan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2). Pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diverensifikasi dengan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
(3). Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan :
a. Peningkatan iman dan taqwa;
b. Peningkatan akhlak mulia;
c. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik;
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. Tuntutan dunia kerja;
g. erkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
h. Agama;
i. Dinamika perkembangan global; dan
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
(4). Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) di atas lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
E. Pengertian Prestasi Belajar Geografi
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, dikatakan Bahwa kata prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai, dikerjakan, dan dilakukan (Poerwadarminta, 1987: 786). Menurut Mas'ud Khsan Amdul Qadar (Budianto, 1997: 10) bahwa: "Prestasi adalah apa yang telah dicapai, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerjanya".
Keberhasilan orang dalam belajar berhubungan erat dengan proses belajarnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdullah (1987: 2) sebagai berikut:
“Prestasi belajar adalah sebagai indikator kualitas dan pengetahuan yang dikuasai oleh anak. Tinggi rendahnya pre stasi belajar adalah sebagai indicator sedikit banyaknya yang dikuasai dalam bidang studi atau kegiatan tertentu. Jadi tinggi rendahnya prestasi belajar menunjukkan kualitas dan sejauh mana bahan plajaran yang telah dikuasai oleh siswa” .
Berdasarkan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan prestasi belajar geografi adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran geografi setelah memperoleh pengalaman belajar geografi dalam suatu penggalan waktu tertentu. Prestasi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk tingkat keberhasilan yang dapat dicapai oleh seseorang setelah melakukan suatu kegiatan tertentu. Jika dikaitkan dengan belajar, maka prestasi menunjukkan tingkat keberhasilan yang dapat dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam suatu kurun waktu tertentu.
Dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah siswa sebagai subjek belajar memperoleh pelajaran yang disajikan oleh guru ataupun sumber yang lain. Penyajian materi oleh guru kepada siswa dimaksudkan agar mereka dapat menguasainya dengan baik. Dengan adanya penguasaan materi pelajaran yang disajikan oleh guru mengakibatkan terjadinya suatu perubahan tingkah laku pada diri siswa. Perubahan tingkah laku dalam artian siswa menguasai materi pelajaran, untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa terhadap penguasaan materi pelajaran maka diukur dengan menggunakan tes.
Dan hasil pengukuran dengan menggunakan tes merupakan salah satu indikator keberhasilan siswa yang dapat dicapai dalam usaha belajarnya.
F. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya maka disimpulkan bahwa
1. Motivasi belajar siswa ditentukan oleh beberapa faktor yaitu (1) faktor yang berasal dari lluar pribadi siswa atau disebut juga sebagai faktor eksternal, dan (2) faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang disebut sebagai faktor internal. Faktor eksternal tersebut adalah situasi kelas yang tenang, lingkungan sekolah yang sejuk, karakter guru, dan keinginan mendapat hadiah. Sedangkan faktor internal adalah kesadaran pribadi untuk mengetahui pelajaran geografi.
2. Faktor eksternal dan faktor internal tersebut, rnenjadi rnotivasi bagi siswa dalam memacu diri mencapai prestasi atau hasil belajar yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Almiana. Juli 2002. Pengaruh pemberian kuis Terhadap Motivasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri I Tanete Riaja Kabupaten Barru pada Pembelajaran Lingkaran. Skripsi. Universitas Negeri Makassar.
Anonym, Agustus 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas). Citra Umbara Bandung.
Kartawidjaja Eddy Soewardi. Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar. IKIP Bandung. Sinar Baru Bandung.
Latunreng Hamid. Motivasi Belajar Sebagai Strategi Belajar Mengajar Untuk Meningkatkan Keberhasilan Siswa. FKIS-IKIP Ujungpandang.
Mustaring Hasnita. Februari 2003. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Inpres 2 Malengkeri Makassar Melalui Pemberian Tugas Setiap Akhir Pembelajaran Disertai Umpan Balik. Skripsi. Universitas Negeri Makassar.
Nurcaya. 1997. Hubungan Prestasi Belajar IPS di Kelas I SLTP Negeri Prestasi Belajar IPS di Kelas IV Sekolah Dasar (Suatu Studi Pada Kelas I SLTPN Mallawa Maros. Proposal Penelitian. IKIP Ujungpandang.
Poerwadarminta. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudirman. 30 November 1987. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjana Nana. Desember 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya-Bandung.
Tiro Muhammad Arif. 1999. Dasar-Dasar Statistika. Makassar State University Press.
Wasito Woko. 1972. Kamus Bahasa Indonesia. Bandung: Shinta Dharma.







0 komentar to "PERANAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH"

Poskan Komentar

my photo

my photo

Cari Blog Ini

Memuat...

Selamat datang di CHUMMANK BLOG

Blog ini dapat menjadi solusi konkrit bagi anda semua, utamanya sebagai bahan referensi

PROPILKU

makassar, sulawesi selatan

Pengikut

Label

Blog Archive

Web hosting for webmasters